Kamis, 07 April 2016

Review Film Horor: Devil (2010)

Setan atau Iblis mungkin adalah mahluk adi kodrati yang paling ditakuti manusia yang percaya kepada entitasnya, sebagai lawan dari Tuhan sebagai sosok yang diagungkan.Well, sepertinya tidak akurat juga kalau kita sebut sebagai lawan dari Tuhan, karena toh dia juga ciptaan-Nya, layaknya malaikat atau manusia. Akan tetapi tampaknya sudah menjadi kodrat bagi sang Setan untuk mencobai manusia, dalam bentuk apa pun. Dan kini, melalui ‘Devil’ sekali lagi Setan berulah.

Ada lima orang yang ‘secara’ kebetulan terperangkap disebuah lift yang mengalami gangguan. Mereka adalah seorang satpam pengganti (Bokeem Woodbine), perempuan paruh baya (Jenny O’Harra), perempuan muda (Bojana Novakovic), mekanik (Logan Marshall-Green), dan salesman (Geoffrey Arrend). Masalahnya, salah seorang dari mereka ternyata adalah sosok perwujudan Setan yang mempunyai rencana misterius terhadap mereka. Saat satu persatu kemudian mereka menemukan kematian dengan menggenaskan, situasi panik dan penuh kecurigaan pun tidak terelakkan. Ditempat lain, seorang detektif (Chris Messina) yang tengah menyelidiki kasus bunuh diri di gedung yang sama kemudian terseret dalam kasus ini, tanpa menyadari jika sang Setan pun mempunyai rencana tersendiri untuk dirinya.

Berangkat dari ide cerita M. Night Shyamalan, ‘Devil’ diniatkan sebagai bagian awal dari trilogi ‘The Night Chronicles’. Tampaknya Shyamalan melalui film ini berusaha mengangkat kembali namanya yang akhir-akhir ini terpuruk dengan memproduksi sebuah sinema horor yang lebih solid dan straight to the point. Disutradarai oleh John Erick Dowdle (Quarantine), ‘Devil’ memanglah cukup menarik perhatian, karena sepanjang durasi 80 menitnya, lumayan berhasil dalam menjaga intensitas dengan memenuhi porsi narasi oleh ketegangan yang menggedor, nyaris tanpa henti.

Seting lift yang sempit sendiri tidak menghalangi film untuk tampil ciamik dan mendebarkan. Beruntung sekali film ini mendapat bantuan dari Tak Fujimoto (Silence of The Lambs, The Sixth Sense), seorang sinematografer kawakan, yang tahu benar bagaimana menempatkan sudut pandang-sudut pandang yang dapat menangkap kegalauan klaustrophobia yang menyesakkan.

Beruntungnya lagi, skrip juga mengizinkan dinamika plot yang cukup mengalir dan artikulatif. Meski tidak bisa ditepis kesan jika premisnya sendiri cukup terpengaruh oleh kisah ’10 Anak Negro’ karya sang master of suspense legendaris, Agatha Christie. Novel itu sendiri bisa dikatakan sebagai peletak platform slasher kontemporer yang kita kenal saat ini. Bercerita tentang 10 orang yang tidak saling mengenal satu sama lain dan berkumpul di sebuah pulau. Saat satu persatu kemudian mereka menemui kematian, terkuaklah fakta jika masing-masing dari mereka mempunyai dosa masa lalu yang tidak tersentuh hukum, sehingga kemudian seseorang memutuskan untuk “menghukum” mereka di pulau yang terisolasi tersebut.

Dalam ‘Devil’, seting pulau diganti menjadi sebuah lift yang tiba-tiba berhenti beroperasi. Sedang mengenai karakter-karakter sendiri, ternyata juga mempunyai “dosa” masa lalu. Tentu saja film akan menjadi tidak menarik jika tidak memiliki twist-nya sendiri. Dan ‘Devil’ menawarkan itu. Alurnya sendiri diatur dengan cukup cerdas dan ringkas. Itu yang terpenting, karena dapat mengeliminir tutur yang bertele-tele dan dapat tampil lancar serta tidak membosankan.

Meski begitu, sulit untuk menafikan jika film sangat “rohaniah”, dalam artian kentalnya dogma religi yang meyelubungi premisnya. Mau tidak mau, kesan “berkhotbah” kemudian sulit dihindarkan. Cukup mengganggu bagi saya, disamping kenyataan bahwa sebagai sebuah film horor, ‘Devil’ tidak benar-benar menyeramkan. Seru atau menegangkan mungkin, tapi tidak cukup kuat untuk “menakut-nakuti”. Mungkin akan dapat terselematkan jika saja ratingnya ditingkatkan menjadiRestricted ketimbang PG-13, karena potensi gore yang sadistis benar-benar disunat dari film ini. Pada akhirnya kekerasan hanya menjadi sekedar teaser yang datar ketimbang benar-benar dimanfaatkan untuk memprovokasi efek memilukan, yang saya yakin, jika dilakukan, pastilah akan menambah dramatisasi kengeriannya menjadi lebih efektif.

Terlepas dari itu, ‘Devil’ memang cukup memuaskan dahaga akan film horor yang cukup bernas. Dan sebagai pembuka dari sebuah trilogi, bolehlah kemudian kita berharap banyak pada sang kreator, M. Night Shyamalan, untuk dapat memberikan sensasi mencekam yang lebih baik lagi. Ditunggu.
Rating: 6,4/10                                                Download here (via torrent)

0 komentar :

Posting Komentar