Sabtu, 16 April 2016

Review Film: Belenggu (2013)

Dari semua film-film thriller, masih ada film-film thriller Indonesia yang harus diacungi jempol. Sebut saja The Perfect House (2011) lalu yang cukup tampil dengan memuaskan. Kemudian, Modus Anomali (2012) yang merupakan sebuah hasil diatas rata-rata film Indonesia. Thriller terbaik Indonesia harus jatuh kepada Pintu Terlarang (2009) karya Joko Anwar yang menggambarkan bagaimana thriller Indonesia harus digarap. “Belenggu” merupakan pada jalur yang tepat. Memberikan nuansa kelam yang sangat meyakinkan sejak awal. 

Upi Avianto mulai berkarya sejak 30 Mencari Mencari Cinta (2004), yang menurut saya adalah sebuah debut dari Upi yang tidak mengecewakan. Upi kembali hadir dalam Realita Cinta dan Rock N Roll, yang kemudian kembali dalam Serigala Terakhir (2009), sebuah kisah persahabatan layaknya Mengejar Mathari namun dibalut lebih macho, lebih brutal, lebih laki dan lebih berat dari film-film yang mengisahkan tentang persahabatan lainnya. Upi kemudian hadir kembali dalam sebuah komedi, Red Cobex (2011) yang sebenarnya tidak mengecewakan namun kurang sah jika dikatakan sebuah film komedi karena komedi nya yang kurang berhasil membuat penontonya merasa senang. Namun dari tahun 2010, Upi kembali hadir dengan film terbarunya “Belenggu” yang merupakan thriller Indonesia. Film yang perdana pada Puchon International Fantastic Festival ini mendapatkan mixed reviews.

“Belenggu” mengisahkan tentang suatu kota yang sungguh kelam yang dimana semua rakyatnya mengalami ketakutan akibat adanya pembunuh dengan jubah kelinci yang masih berkeliaran diluar sana. Dan katanya pembunuh tersebut mengincar seorang perempuan. Semua orang saling mencurigai satu sama lain, begitu juga Elang (Abimana Aryasatya) yang tinggal di sebuah rumah susun. Elang adalah seorang pemuda yang bekerja di sebuah bar yang sangat penutup. Ia sering berbicara dengan tetangganya bernama Djenar (Laudya Cinthya Bella). Suatu saat Elang menyelamatkan seorang pelacur bernama Jingga (Imelda Therine). Elang pun menceritakan tentang mimpi buruk yang sering ia dapatkan mengenai sosok pembunuh berantai berjubah kelinci yang masih berkeliaran diluar sana. Dan Elang mencurigai suami dari Djenar (Verdi Solaiman). Namun, Elang tidak sadar bahwa Elang telah terbawa oleh sebuah dunia yang baru yang ia tidak sadari telah sepenuhnya merasuki tubuhnya dan membuatnya melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Tentu sembari menguak siapa sebenarnya pembunuh dengan jubah kelinci tersebut.

“Belenggu” adalah sebuah film yang dipenuhi dengan teka-teki sejak awal. Seperti yang saya katakan, sebuah physocological thriller yang sebenarnya tidak amatlah rumit. Namun, kemampuan Upi untuk membuat penontonya tetap merasa ingin tahu mengenai kelanjutan kisah Elang dan pembunuh dengan jubah kelinci tersebut memang sangat luar biasa. Teka-teki yang Upi minta untuk penonton selesaikan sepertinya sudah bisa terlesaikan mungkin sebelum endingnya tersendiri. Upi memilih untuk menjelaskan secara detail mengenai apa yang terjadi dibandingkan membiarkan penontonya menguak sendiri misteri tersebut. Bagi saya, saya lebih menyukai cara Upi dibandingkan cara Joko Anwar dalam “Pintu Terlarang” tersebut. “Belenggu” memilih kekurangan dan kelebihan layaknya film-film lainya. Sama sekali tidak sempurna namun saya sangat berterimakasih untuk Upi telah memberikan sebuah sajian yang tidak biasa bagi Perfilman Indonesia yang seharusnya di apresiasikan lebih bagi penonton Indonesianya sendiri.

Dengan gaya vintage nya, “Belenggu” membangun sebuah dunia baru yang tidak kita kenal. Kelam. Gelap. Tidak ada orang-orang yang bergaya biasa dan berperilaku biasa. Semuanya penuh dengan curiga. “Belenggu” berhasil dalam hal tersebut. Dengan tata suara nya yang juga berhasil memberikan sebuah ketengangan yang lebih sehingga jantung pun ikut berdebar. “Belenggu” bisa dibilang mampu tampil dengan mengerikan. Film yang penuh dengan teka-teki ini terlalu bermain aman ditengah, dimana “Belenggu” memulai misterinya dengan membangun tokoh Elang dan berfokus pada hal tersebut. Yang sayangnya kurang dibalut dengan menarik. Disinilah “Belenggu” mulai merasa membosankan. Sulit bagi saya untuk setia menyaksikan Elang dan mimpi-mimpi buruknya dan bagaimana Elang dihantui dengan sosok-sosok misterius tersebut. Paruh pertama membosankan. Namun dibayarkan dengan paruh keduanya yang menurut saya jauh lebih mengasyikan dibanding paruh pertamanya yang berjalan dengan membosankan dan amat lambat.

Masalah pemain, Abimana Aryasatya yang memulai aktingnya dalam “Catatan Harian Si Boy” membuktikan bahwa ia bisa bermain film apa saja. Just give him the right material, and he can bring damage to it. Bisa dikatakan Reza Rahadian yang baru. Abimana Aryasatya tampil meyakinkan sejak awal walaupun terkadang aktingnya agak cenderung berlebihan dimana akting gemeteranya terlihat terlalu dibuat-buat. Imelda Therine memang sejak dulu selalu menjadi aktris terfavorit saya. Bermain dalam film-film yang bisa dikatakan berbeda. Seperti “Angkerbatu”, “Rumah Dara”. Kali ini, akting Imelda Therine bisa dibilang lebih meyakinkan. Adapula Teuku Rifku Wikana yang (tidak mengejutkan) dapat bermain dengan baik dalam porsi yang sedikit. Jajang C. Noer, Verdi Solaiman, Bella Esperance bahkan Devina semuanya memberikan sebuah penampilan yang sangat baik. Sungguh disayangkan, sepertinya sosok Djenar disini tidak mampu membuat Laudya Cinthya Bella untuk dapat tampil lebih leluasa. Dimana dengan porsi yang sungguh singkat tersebut, Laudya CInthya Bella sebenarnya mampu memberikan sebuah penampilan yang tidak mengecewakan. Namun, pembangunan karakter Djenar rasanya sedikit membingungkan.

Pada akhirnya, “Belenggu” adalah sebuah psychological thriller yang memberikan sebuah atmosif mencekam dengan dunia yang kelam. Kota yang belum kita lihat dalam film-film Indonesia sebelumnya. Dan dengan gaya vintage nya dan seni artistik nya yang sangat memuaskan. Dengan kostum-kostum jadul dan dengan gaya-gaya pertunjukkan si jubah kelinci yang sangat keren. “Belenggu” sayangnya bisa dibilang gagal membuat penontonya tergila-gila akibat paruh pertamanya yang berjalan selamban kura-kura, yang yah…walaupun terbayarkan dengan paruh keduanya yang sebenarnya tidak keren-keren amat, namun mampu menghasilkan sebuah momen-momen menegangkan. Dan momen Elang dan Jingga berjalan setelah membalas dendam mungkin adalah bagian terbaik dari “Belenggu”. Dengan pemain-pemain yang sangat berakting dengan baik. Upi Avianto punya potensi untuk menghasilkan sebuah film yang sangat gila dan sangat memuaskan.Dan dengan misteri-misteri yang cukup solid. Namun, sayangnya pada akhirnya penonton meminta lebih dari “Belenggu” dan juga dari Upi.
Rating: 6,2/10                                               Download Film here (via ftp)

0 komentar :

Posting Komentar