Selasa, 17 Februari 2015

Nasib Pilu Mantan Kontestan "Akademi Fantasi Indosiar"

"Menuju puncak kemilau cahaya, Bersatu kita teman sejati, Pasti berjaya di Akademi Fantasi", itulah cuplikan theme song avara TV "Akademi Fantasi Indosiar (AFI)", sebuah acara kontes menyanyi di Indosiar yang tayang sepanjang tahun 2003 hingga 2006 silam. So, pastinya teman2 masih pada inget kan acara yang satu ini? Namun dibalik gemerlapnya panggung kontes menyanyi tersebut, terselip kenyataan pahit yang dialami mantan para kontestan AFI yang mana nasib mereka seolah ditelantarkan oleh pihak manajemen acara tersebut. Sebenarnya hal ini sudah sejak lama saya denger dari sebuah milis terpercaya di pertengahan tahun 2006, dalam tulisannya dikisahkan tentang mantan kontestan AFI yang hidup merana seusai musim kontes, dimana mereka wajib menjalani kontrak 2-3 tahun dengan Indosiar. Lantas, apa bentuk penelantaran tersebut? 

Di balik imej mereka yang gemerlap saat manggung atau ketika nongol di TV, nyatanya kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan. Banyak di antara mereka yang hidup terlilit utang ratusan juta rupiah. Pasalnya, orang tua mereka ngutang ke sana-sini buat menggenjot perolehan sms putera-puteri mereka. Bisa dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI itu yang murni berasal dari pilihan publik. Kemenangan mereka ditentukan seberapa besar orang tua mereka sanggup men-support uang untuk sms premium. Orang tua Alfin dan Bojes habis 1 Miliar, namun mereka orang kaya, bodo amat! Saya mendapat info ini dari orang yang dekat dengan keseharian para mantan kontestan AFI selama mereka menjalani masa wajib kontrak. 
Para kontestan cewek AFI 2005, ada favorit saya di sebelah paling kanan (Tiwi)

"Yang kasian mah, yang kaga punya duit. Fibri (AFI 2005) yang tereliminasi di minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia sekarang hidup di sebuah kos sederhana di depan Indosiar. Kost-nya emang sedikit mahal RP 500.000. Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat ongkos transportasi. Kost itu sederhana (masih bagusan kos gw gitu loh), bahkan kamar mandi pun di luar. Makannya sekali sehari. Makan dua kali sehari sudah mewah bagi Fibri. Kagak ada dugem and kehidupan glamor, lha makan aja susah. Ada banyak yang seperti Fibri. Sebut saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll. Mereka teikat kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, kaga bisa cari job di luar Indosiar. Bayaran di Indonesiar sangat kecil. Lagian pembagian job manggung sangat tidak adil. Beberapa artis AFI seperti Jovita dan Pasya kebanjiran job, sementara yang lain kaga dapat/jarang dapat job. Maklum artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat makan aja mereka susah. Temen gw malah sering dijadiin tempat buat minjem duit. Minjemnya bahkan cuma Rp 100.000. Buat makan gitu loh. Mereka ga berani minjem banyak karena takut ga bisa bayar. Ini benar-benar proyek yang tidak manusiawi." Ujar lelaki melambai yang enggan disebutkan namanya tersebut.
Very & Pasha AFI buka warung bakmi & nasi goreng di daerah Ciledug, Tangerang

Para orang tua dan anak Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu bakat di televisi. Mereka dikontrak ekslusif selama dua hingga tiga tahun oleh Indosiar. Namun tidak ada jaminan hidup sama sekali. Mereka hanya dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak menentu. Buruh pabrik yang gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada mereka. Nah acara ini dan acara sejenis masih banyak, Pildacil juga begitu. Kasian orang tua dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan seperti ini. Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam audisi AFI. Padahal dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa dia akan membuat orang tuanya punya utang yang melilit pinggang, yang tidak akan terbayar sampai kontraknya habis.

Kapitalis SMS Premium menggila
Tiap stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan. Tengok saja misalnya AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, Putri Cantrik, dsb. Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan untuk mencari bibit penyanyi terbaik. Acara ini hanya sebagai kedok belaka, bisnis yang sebenarnya adalah SMS premium. Bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum (setidaknya sampai saat ini). 
Mari kita hitung-hitungan. Satu kali kirim SMS biayanya (anggaplah) Rp 2000. Uang dua ribu rupiah ini sekitar 60% untuk penyelenggara SMS Center (operator telekomunikasi), sisanya yang 40% untuk “bandar” (penyelenggara) SMS. Siapa saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server yang terhubung ke jaringan telekomunikasi nonstop 24 jam per-hari dan membuat program aplikasinya. Jika dari satu SMS ini “bandar” mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800), maka jika yang mengirimkan sebanyak 7,5% saja dari total penduduk Indonesia (Coba anda hitung, dari 100 orang kawan anda, berapa yang punya handphone? Saya yakin lebih dari 40%), maka bandar ini bisa meraup uang sebanyak Rp 120.000.000.000 (baca: seratus dua puluh milyar rupiah), wow angka yang fantastis. Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah rumah senilai 1,5 milyar, itu artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang diraupnya sebagai “biaya promosi”! Dan ingat, satu orang biasanya tidak mengirimkan SMS hanya sekali. Masyarakat diminta mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya agar jagoannya tidak tersisih, dan “siapa tahu” mendapat hadiah. Kata “siapa tahu” adalah untung-untungan, yang mempertaruhkan pulsa handphone. Pulsa ini dibeli pakai uang. Dengan kata lain "Kuis SMS adalah 100% judi".

Begitu menggiurkannya bisnis ini, sampai-sampai produsen minuman Nutrisari membuat iklan yang saya pikir menyesatkan. Pemirsa televisi diminta menebak, “buka” atau “sahur”, lalu jawabannya dikirim via SMS. Ada embel-embel gratis. Ada kata, “dapatkan handphone...bla bla bla.” Saya bilang ini menyesatkan, karena pemirsa televisi bisa menyangka : “Dengan mengirimkan SMS ke nomor sekian yang gratis (toll free), saya bisa mendapat handphone gratis”. Kondisi ini sudah sangat menyedihkan, bahkan sudah sangat gawat, lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB. Jika dulu, orang untuk bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman jahiliyah orang berjudi dengan dadu & tempurung batok kelapa (judi kropyok), maka di jaman modern ini orang bisa berjudi, hanya dengan beberapa ketukan jari di pesawat handphone!

0 komentar :

Posting Komentar