Minggu, 01 Juni 2014

Review Film : Jakarta Maghrib (2010)

Jakarta Maghrib merupakan film omnibus yang disutradarai oleh Salman Aristo dan dirilis pada desember 2010. Film ini dibintangi oleh sederet artis yang namanya cukup mentereng, sebut saja Indra Birowo, Asrul Dahlan, Lukman Sardi, Ringgo Agus Rahman, Desta, Fanny Fabriana, Reza Rahardian dan lain-lain. Sesuai judulnya, film Jakarta maghrib mengisahkan bahwa saat 'maghrib' adalah waktu yang spesial dimana telah menebar berbagai anggapan ditengah masyarakat. Ia berusaha menangkap maghrib bukan saja sebagai fenomena relijius bagi umat islam, namun saat-saat menjelang maghrib sudah menjadi bagian yang khas bagi masyarakat urban Jakarta, kemudian menyusunnya kedalam 5 tautan cerita sebagai penyampaian narasinya.

Segmen pertama, bertajuk 'Iman Cuma Ingin Nur', adalah bagian pertama dari film "Jakarta Maghrib" yang berusaha menangkap ruang personal dari warga Jakarta, khususnya dalam hal rumah tangga. Iman (Indra Birowo) hanya ingin satu hal yaitu keinginan bercinta dengan istrinya, Nur (Widi Mulia). Iman berasal dari Sidoarjo, sedangkan Nur adalah asli Betawi. Penat dengan 3 hari lembur akibat sang bayi sakit, rasanya akan terbayar dengan ML yang melegakan. Hanya saja, gabungan waktu maghrib dan sentimen sang mertua, membawa pasangan suami-istri tersebut ke dalam sudut lain dalam hubungan mereka.

Segmen kedua, berjudul 'Adzan', yang mengisahkan ruang religiusitas dan kontemplasi warga Jakarta. 
Baung (Asrul Dahlan), adalah seorang pemuda asli Jakarta, dia adalah seorang preman. Pak Armen (Sjafrial Arifin), pria tua asal Solok, Sumatra Barat, adalah seorang pemilik warung sekaligus penjaga mushola. Keduanya ada di sebuah kampung yang musholanya bersih tapi sepi pengunjung. Suatu sore, setelah malam yang mabuk bagi Baung, mereka bercakap-cakap di warung Pak Armen, mulai dari pekerjaan sampai kematian. Beberapa menit menjelang Maghrib, sesuatu terjadi pada Pak Armen. Sesuatu yang membuat Baung menangis, sesuatu yang membuat warga kampung berbaris marah menuju mushola.

Segmen ketiga, 'Menunggu Aki', yang menceritakan interaksi antar warga kota Jakarta sesaat menjelang maghrib. 
Di sebuah kompleks perumahan, Aki selalu ditunggu. Dia selalu datang sehabis Maghrib menjajakan nasi goreng yang diakui sebagai salah satu yang terenak. Karena tungkunya menggunakan arang, nasi goreng pun jadi lezat tiada tara. Membuat para penghuni selalu berkumpul. Namun hari itu Aki tidak datang, dan para penghuni kompleks pun ‘terpaksa’ berkenalan satu sama lain. Mengenali diri masing-masing. Sampai Maghrib tiba mereka kembali menjadi warga Jakarta sejati yang individualistis.

Segmen keempat, 'Jalan Pintas', menceriterakan cuplikan hidup kaum muda Jakarta yang terkurung dalam ruang hubungan inter-personalnya. 
Dua orang anak muda. Laki-laki (Reza Rahadian) dan perempuan (Adinia Wirasti). Mempertaruhkan hubungan pacaran selama tujuh tahun dalam mobil di tengah rumitnya tata kota Jakarta. Mereka berkejaran dengan adzan Maghrib. Sebab si Cewek menargetkan mereka harus sampai sebelum Maghrib di tempat pernikahan kerabat. Ada misi ‘jalan pintas’ yang mereka kejar agar mereka sendiri juga bisa dipercaya dan mendapat izin menikah.

Segmen kelima, 'Cerita Si Ivan', yang melukiskan salah satu potret anak-anak Jakarta dan apa yang telah merasuki pikiran mereka selama ini.
Ivan (Aldo Tansani) bolos dari Madrasahnya. Demi bermain game di sebuah rental langganan. Tapi ternyata itu tidak mudah karena rental hari itu penuh. Dia pun mengarang berbagai cerita horor tentang seramnya Maghrib, agak bisa ‘mengusir’ teman-temannya dari tempat rental. Tapi begitu Maghrib tiba, Ivan harus pulang dan harus berhadapan dengan cerita-ceritanya sendiri.

Segmen terakhir, 'Ba'da', bagian penutup dari film Jakarta Maghrib yang menceritakan bahwa semua karakter di atas akhirnya nanti akan bertemu di kisah ini, berinteraksi secara langsung dan tidak. Setelah tiap-tiap orang mengalami waktu maghrib-nya masing-masing di Jakarta.
Rating : 7.0/10                                 Download via Indowebster

0 komentar :

Posting Komentar