Rabu, 28 Mei 2014

Plagiarisme Dalam Industri Musik Nasional

Kata orang tangga nada hanya terdiri atas 7 nada, yakni do re mi fa sol la si, kalau ditambah dengan minor, mayor, jadi 17. Penciptaan lagu sudah berlangsung selama berabad-abad dan industri musik sejak era 50an membuat lagu menjadi komoditas bernilai komersial tinggi. Profesi penyanyi dan pemusik menjadi prestise, apalagi dilengkapi predikat selebriti dan sosialita yang identik dengan dunia gemerlap. Kekayaan dan popularitas menjadi idaman semua orang, menjadi artis rekaman dengan album yang populer dan komersial adalah impian setiap musisi dan penyanyi. Sesuai dengan evolusi dunia musik, dari musik klasik, musik rakyat (folk), musik tradisional (world music) yang biasanya tidak mengenal HaKI (public domain), menjadi musik komersial dalam berbagai aliran (genre): pop, rock, jazz, blues, R&B, keroncong, dangdut, country, disco, electronic, alternatif, sampai hip-hop dan metal. Musik rekaman dilindungi hak cipta yang melarang penggunaan musik dan lirik tanpa seizin pencipta lagu.

Seperti halnya karya cipta lainnya, lagu yang terdiri atas musik dan lirik seringkali secara sengaja atau tidak ditiru atau direproduksi dalam bentuk karya lagu oleh musisi lain. Bentuknya macam-macam, ada yang secara penuh (cover version), mengganti lirik atau musik sebagian atau seluruhnya, parodi (memodifikasi lagu untuk menimbulkan efek humor), sampling (mengambil potongan musik atau lirik untuk menciptakan lagu baru), dan lain-lain. Penggunaan seperti itu sah-sah saja, asal sesuai dengan ketentuan, jika diperlukan izin pencipta aslinya, ataupun hanya sekadar penyebutan (acknowledgement) pada karya turunan. Masalahnya, jika itu tidak dilakukan, maka bisa-bisa karya itu menjadi bentuk plagiarisme (plagiat) yang dikenai sanksi, baik secara legal maupun moral.

Kemiripan suatu lagu dengan lagu lain sangat jamak terjadi. Lagu karya musisi Indonesia bisa saja mirip dengan lagu karya musisi Indonesia lainnya, karya musisi asing, atau sebaliknya. Tuduhan plagiarisme terjadi saat kemiripan itu tidak dijelaskan atau diakui secara eksplisit. Bahkan, bisa terjadi suatu lagu tidak terdeteksi kemiripannya karena lagu aslinya tidak terlalu populer. Konon ada batasan suatu lagu disebut plagiat, yaitu 8 bar. Musik Indonesia sejak dulu selalu dipengaruhi oleh musik internasional, sehingga kemiripan-kemiripan pun seringkali terjadi. Dalam menulis dan merilis karya musik, selain pengaruh yang memang menjadi inspirasi pencipta lagu, kadang-kadang pengaruh pihak luar (produser) yang menginginkan sebuah lagu/album yang mengikuti selera pasar. Kita pernah mengenal era Koes Plus (70-an), Pop “Cengeng” (80-an awal), Pop “Kreatif” (80-an akhir), KLa Project (90-an awal), Dewa 19 (90-an akhir). Pada dekade 2000-an, kita mengenal grup-grup musik yang mempengaruhi tren bermusik berturut-turut: Sheila on 7, Padi, Peterpan, Ungu, dan belakangan ini ST-12 dan Wali alias Pop Melayu.

Masalah plagiarisme mencuat terutama untuk kelompok musik D’Masiv dan Vierra yang banyak dituding sebagai plagiator kelas kakap karena mayoritas lagu dalam albumnya mirip atau sangat mirip dengan lagu-lagu karya musisi asing. Anda bisa mencari di internet untuk ulasan selengkapnya. Karena Penulis sudah tidak lagi mengikuti perkembangan musik terakhir, baik di Indonesia maupun internasional, rasanya tidak mustahak untuk mengomentari apakah mereka sudah layak digelari plagiator. Tidak mudah menentukan satu karya lagu itu plagiat: apakah musiknya mirip sampai ke notasi nada per nada? apakah liriknya cuma terjemahan kata perkata dari aslinya? kalau memang mirip apakah sudah seizin pencipta aslinya?. Toh, hampir semua yang pro dan kontra sepakat bahwa sulit menghindari pengaruh/inspirasi karya lain dalam menulis lagu, yang berujung pada plagiat yang “tidak disengaja”. Di sisi lain, jika dilakukan secara sengaja maka harus mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

Berikut ini beberapa contoh kasus yang menarik hasil analisa saya:
  • Bimbo pernah (tidak sengaja?) memasukkan sebaris melodi lagu Bohemian Rhapsody(Queen) dalam lagu Berdiri di Atas Jembatan Semanggi. Ini diakui sendiri oleh mereka. Baris lirik: …bukan itu, bukan itu maksudku… dinyanyikan dengan melodi yang sama dengan baris …open your eyes, look up to the sky and see…
  • God Bless dituduh menjiplak lagu Fifth of Firth (Genesis) untuk lagu Huma di Atas Bukit(versi 1975), terutama pada bagian solo keyboard. Yockie Suryo Prayogo, pemain keyboard God Bless, pernah mengatakan ini tidak sengaja, mengingat konsep musik God Bless memang terpengaruh musik rock progresif 70-an. Versi tahun 1990 diubah aransemennya sehingga tidak lagi mirip dengan Genesis.
  • Masih tentang God Bless, lagu Semut Hitam (1988) dikatakan mirip lagu Going Crazy dari David Lee Roth. Penulis tidak bisa mengonfirmasikan, karena refrein lagu ini lebih mirip melodi lagu tema film seri kartun Mask, yang sempat diputar di TVRI sekitar tahun 1987-1988.
  • Chrisye pernah mengalami kondisi kurang menyenangkan saat dua hit dari dua albumnya: Hip Hip Hura (1986, karya Adjie Soetama) dan Jumpa Pertama (1988, karya Andi Mapajalos) masing-masing mirip dengan lagu Footlose (Kenny Loggins) dan Morning Train (dipopulerkan Sheena Easton)
  • Beberapa lagu sebenarnya hanya mirip dengan intro lagu lain, yang lebuh berhubungan dengan aransemen, terlepas dari musik dan liriknya yang sangat berbeda. Sebagai contoh:
  • Astaga (James F.. Sundah, dipopulerkan Ruth Sahanaya), intronya mirip dengan lagu You Can’t Hurry Love (Phil Collins)
  • Hasratku (Imaniar), intronya mirip dengan lagu Take on Me (a-ha)
  • Kasmaran (Yuni Shara), intronya mirip dengan lagu Keraguan (Trie Utami)
  • Sang Dewi (Titi DJ) intronya mirip dengan lagu The World Is Not Enough (Garbage)
  • Guitar line/intro lagu Dust in the Wind (Kansas) paling tidak disinyalir telah dipakai pada lagu Sempurna (Andra & The Backbone), dan juga Terlalu Cinta (Protonema)
  • Di album Catatan si Boy 4, Penulis menemukan paling tidak dua lagu yang punya kemiripan dengan lagu barat: Lagu Cinta (Dian AGP) mirip dengan Love Will Lead You Back (Taylor Dayne) dan Antara Kita (Farah MP) mirip dengan Vogue (Madonna). 
Mirip dengan kasus Bimbo di atas, melodi satu baris yang mirip (bisa sengaja, bisa juga tidak):
  • Menghitung Hari (Melly Goeslaw, dipopulerkan Krisdayanti) dengan lagu I’ll Be There for You (Kenny Rogers)
  • Kesaksian (Kantata Takwa) pada refrein dengan awal lagu Can’t Help Falling in Love (Elvis Presley/Julio Igglessias/UB 40)
  • I Miss U but I Hate U (Slank) mirip dengan lagu The Tide Is High (Blondie)
  • 1000 Puisi (Bip) mirip dengan lagu I Still Haven’t Found What I’m Looking for (U2)
Kemiripan Jadul (dan tidak populer):
  • Neraka yang Asyik (dipopulerkan Iwan Fals, album Barang Antik) mirip dengan D’yer Mak’er (Led Zeppelin)
  • Ketika Alam Murka (Franky & Jane, album Lelaki dan Rembulan) mirip dengan Storm in Africa (Enya)
  • Coba Lagi (Itang Yunaz, album Aku Cinta Padamu) mirip dengan Faith (George Michael)
  • Special mention untuk Dorrie Kalmas: pencipta lagu yang mulai populer saat menulis lagu Nada Kasih untuk Fariz RM ini entah sengaja atau tidak bahwa beberapa lagunya terdengar mirip dengan lagu-lagu barat. Sebagai contoh:
  • Bila (dipopulerkan Irma June) pada refrein mirip dengan lagu Grown-up Christmas List (David Foster, dipopulerkan Natalie Cole)
  • Satu Keinginan (dipopulerkan Yana Julio) pada refrein mirip dengan lagu Going Home (Kenny G)
  • Hasrat Cinta (dipopulerkan Yana Julio) mirip dengan lagu Piece of My Wish (Dave Koz)
  • Selamanya Cinta (dipopulerkan Yana Julio) mirip dengan lagu Do You Dream of Me? (dipopulerkan Michael W Smith)
  • Bahasa Kalbu (dipopulerkan Titi DJ) pada refrein mirip dengan lagu First Love (dipopulerkan Nikka Costa)
  • Pada lagu Sebuah Obsessi (dipopulerkan oleh Neno Warisman dan Fariz RM) ada potongan lirik yang mengambil dari karya terkenal Sang Nabi (Kahlil Gibran): ” …bukankah cinta telah cukup, untuk cinta?…”
  • Ahmad Dhani: sosok personalitas yang kontroversial, dikenal sebagai musisi dan pencipta lagu handal dan tidak menutup-nutupi pengaruh bermusiknya, yang sebagian besar dari grup musik Queen dan tertarik pada sufisme. Grup musik Dewa 19 yang dipimpinnya pernah menyanyikan kembali lagu Queen I Want to Break Free, dan proyek Muhammad Dhani & The Swangers menyanyikan karya P Ramlee, Madu Tiga. Banyak lagu karyanya yang mirip, terinspirasi (atau plagiat?) baik musik maupun lirik dengan karya musisi lain:
  • Judul lagu Roman Picisan diambil dari novel Edy Suhendro, Arjuna Mencari Cinta dari novel karya Yudhistira ANM Massardi, Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi dari lagu karya Michael Bolton (We’re Not Making Love Anymore), Kasidah Cinta dari Jalaludin Rumi,Sayap-sayap Patah dan Cinta Adalah Misteri dari Kahlil Gibran, Cukup Siti Nurbaya dari Marah Roesli
  • Refrein lagu Andai Aku Bisa (dipopulerkan Chrisye) adalah terjemahan dari lagu I Don’t Have the Heart (James Ingram)
  • Lagu Satu Sisi mirip dengan Save a Prayer (Duran Duran)
  • Lagu Pangeran Cinta mirip dengan lagu Immigrant Song (Led Zeppelin)
  • Lagu Hadapi dengan Senyum mirip dengan lagu Let Us Cling Together (Queen)
  • Melodi lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada (duet dengan Chrisye) konon dilisensi dari lagu Glorybox (Portishead), sedangkan Cintaku Tertinggal di Malaysiadilisensi dari Ruthless Queen (Kayak)
Masih ingat saat Ahmad Dhani (Dewa 19) dituntut gara-gara menggunakan judul 'Arjuna Mencari Cinta' oleh Yudhistira ANM Massardi? Penyelesaian yang ditempuh adalah mengganti judul lagu menjadi hanya “Arjuna”. Namun tahukah Anda bahwa judul ini juga pernah dipakai almarhum Gombloh dalam album Setengah Gila (1984) (sedikit dimodifikasi menjadi Arjuna Cari Cinta). Duet Franky & Jane juga pernah menggunakan judul ini untuk salah satu lagu dalam album Panen Telah Datang (1980). Khusus untuk Franky, tidak ada tuntutan karena memang Yudhistira ANM Massardi yang menulis lirik lagunya! Novel ini pernah diangkat menjadi film (seizin pengarangnya) namun saat masuk ke BSF (sekarang LSF), judulnya dipotong menjadi Mencari Cinta saja, dengan alasan bisa mencemarkan nama baik dunia perwayangan! Untungnya saat kemudian diadaptasi menjadi sinetron, tidak ada ribut-ribut lagi.
Kadang-kadang kemiripan terjadi pada dua lagu yang dirilis hampir bersamaan, sehingga tidak bisa dihakimi lagu mana yang meniru:
  • Lagu Saat Denganmu (Putut Mahendra/Rina Wahyu) yang mirip dengan lagu Someday(Chris Cuevas/Debbie Gibson), dan sama-sama dirilis tahun 1994
  • Lagu Kita (Sheila on 7) yang mirip dengan lagu Coffee & TV (Blur) dan sama-sama dirilis tahun 1999
Jangankan lagu Indonesia yang mirip dengan lagu barat, kadang-kadang lagu barat pun ada yang mirip satu sama lain:
  • Why Should I Cry for You? (Sting) mirip dengan I’ll Be Over You (Toto)
  • What’s Up? (4 Non Blondes) mirip dengan Don’t Worry Be Happy (Bobby McFerrin)
  • That’s Why (You Go Away) (MLTR) mirip dengan Arthur’s Theme (Christopher Cross)
  • Amazed (Lonestar) mirip dengan Please Forgive Me (Bryan Adams)
  • Trouble (Coldplay), piano sequencenya mirip dengan Losing My Religion (R.E.M.)
  • Guitar line pada Listen to Your Heart (Roxette) mirip dengan Alone (Heart)
  • Once in a Lifetime (Gregorian) mirip dengan With or Without You (U2)
Etika sampling di musik internasional adalah dengan mencantumkan secara eksplisit pada credit title alias digabungkan dengan penulis lagu turunannya, sebagai contoh: lagu I’ll Be Missing You (P Diddy) yang mengambil dari Every Breath You Take (Sting), Ice Ice Baby (Vanilla Ice) dari Under Pressure (Queen & David Bowie), U Can’t Touch This (MC Hammer) dari Superfreak (Rick James), Set Adrift on Memory Bliss (PM Dawn) dari True (Spandau Ballet), Ghetto Supastar (Nas feat. Pras Michel) dari Islands in the Stream (Dolly Parton/Kenny Rogers), serta Millennium (Robbie Williams) dari You Only Live Twice (Nancy Sinatra)

0 komentar :

Posting Komentar