Rabu, 04 Desember 2013

Review Film : The Raid Redemption (2012)

Setelah sukses malambungkan film "Merantau" (2009), sutradara asal Wales, Gareth Evans meneruskan karya lagi. "The Raid : Redemption", sebuah film action yang menggebrak jagat bioskop internasional. Hal ini tidak hanya membuktikan bahwa film bergenre action yang sering dianak-tirikan dalam kancah perfilm-an Nusantara, nyatanya film jenis ini masih memiliki tempat tersendiri di hati para pecinta film Indonesia. Evans juga secara berani seni bela diri khas Indonesia (pencak silat) sebagai bagian utama dari film "The Raid" ini. Sang sutradara nampaknya masih ingin mengeksplorasi pencak silat dalam film-film besutannya. Bagai ingin menjadikan pencak silat sebagai suatu bentuk ikon seni bela diri yang mampu berdiri sejajar dengan kung fu maupun karate di dalam dunia sinematografi, ia menyajikan pencak silat sebagai daya tarik utama film ini.

Kembali bekerja sama dengan Iko Uwais, Yayan Ruhian dan juga Joe Taslim guna menghadirkan deretan koreografi laga yang lebih epik daripada yang pernah ada dalam film "Merantau", "The Raid" mampu tampil brutal, keras dan lugas dimana hal ini akan memuaskan bagi mereka yang menggemari film laga jenis ini. Sayangnya, fokus utama Gareth Evans dalam menghadirkan koreografi martial arts yang mumpuni seperti menarik penuh perhatiannya dari usaha untuk memperbaiki kemampuannya dalam menuliskan naskah cerita.

"The Raid Redemption" bercerita mengenai suatu tim SWAT (polisi taktis Indonesia) yang bersiap untuk menyerbu masuk ke dalam sebuah apartemen kumuh yang berisi gerombolan kriminal kelas kakap yang ada di Jakarta. Beberapa kali usaha penggerebekan pernah dilakukan, namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Tujuan utama mereka adalah untuk menangkap gembong narkotika bernama Tama (Ray Sahetapy) yang berada di lantai 15 pada apartemen tersebut. Penyerangan secara diam-diam tersebut dimulai secara mulus dari lantai pertama. Sayang, aksi mereka terendus ketika sedang menyisir lantai 6. Dengan jumlah personil aparat yang kalah jauh dibanding komplotan penjahat dalam apartemen, tim SWAT tersebut kini mesti berupaya mempertahankan hidup mereka setelah Tama memerintahkan anak-buahnya untuk menghabisi semua personil polisi yang ada dalam bangunan tersebut.

Kelemahan plot cerita dari The Raid sangat dapat dirasakan ketika film ini sedang melakukan jeda dari menghadirkan deretan aksi dari alur ceritanya. Menghadirkan bagian-bagian kisah seperti intrik personal yang terbentuk antara salah satu anggota tim SWAT dengan salah satu anggota kriminal dan intrik yang terbentuk antara para anggota tim SWAT maupun antara para anggota kriminal, penonton yang sedari tadi digempur dengan deretan adegan aksi dapat dengan mudah melupakan keberadaan plot ‘drama’ tersebut sembari mengambil nafas dan bersiap diri untuk kembali digempur deretan adegan aksi brutal lainnya. Jangan salah, sebagai pengobat dari alpanya eksistensi jalan cerita dari The Raid, Evans mampu menghadirkan koreografi laga yang luar biasa menarik. Koreografi laga yang dihadirkan dalam The Raidbahkan dapat digolongkan sebagai salah satu koreografi laga terbaik yang dapat disaksikan penonton di sepanjang sejarah film action dunia (!). 
Seperti apa film selengkapnya, yuk download aja filmnya pada tautan dibawah ini :
Rating : 7.0/10                                             Download here (via magnet link)

0 komentar :

Posting Komentar