Senin, 29 Juli 2013

5 Lady Rocker Indonesia Tahun 90an

Era 90an mungkin dikenal sebagai zamannya musik rock & slow rock berjaya di belantika musik Indonesia. Banyak bermunculan rocker ataupun lady rocker pendatang baru kala itu, sebut saja nama-nama seperti Ria Sari, Lia Natalia,  Nafa Urbach dan masih banyak lagi. Namun tidak semuanya mereka adalah rocker sejati, banyak juga yang terkesan dipaksakan 'nge-rock' oleh managemen mereka. Namun ada beberapa nama yang patut dinobatkan sebagai lady rocker sejati Indonesia kala itu. Nah pada ulasan kali ini saya akan membahas tentang para lady rocker tulen yang populer di era 90an, siapa sajakah mereka? Yuk kita simak ulsannya sebagai berikut hanya di http://musikindo99.blogspot.com

1. Nicky Astria
Mencari rocker cewek yang berkelas memang tidaklah mudah, itulah yang dirasaskan Log Zhelebour, produser spesialis musik rock yang juga pemilik Logiss Records. Setelah masa keemasan Mel Shandy berakhir, Log lantas menggaet Nicky Astria sebagai andalannya, yang sampai saat ini masih bertahan & eksis dengan album terbarunya "Retrospective" yang diluncurkan tahun 2012 silam. Bisa dibilang bahwa Nicky Astria adalah penyanyi yang konsisten di jalur musik rock. Penyanyi kelahiran Bandung, 18 Oktober 1967, bernama asli Nicky Nastiti Karya Dewi yang kemudian lebih dikenal sebagai Nicky Astria ini ditemukan oleh Jelly Tobing (drummer Superkid) saat tampil di panggung Rally Rock Jakarta - Bandung, di Kartika Candra Theater, yang kemudian mengantar ke dunia rekaman lewat debut album Semua Dari Cinta (1984). Meski dari segi pasar hasilnya kurang memuaskan, tapi setidaknya album ini sudah menjadi tonggak awal perjalanan karir Nicky Astria menuju puncak sukses. Hingga kini Nicky Astria sudah merilis tak kurang dari 18 album dan single, seperti Semua Dari Cinta (1984), Jarum Neraka (1985), Cinta di Kota Tua (1985), Samar Bayangan (2000) dan lain-lain. Serta beberapa single lagu keroyokan, seperti Rock Kamanusiaan (bersama Achmad Albar, Ikang Fawzi, Anggun C Sasmi, Renny Jayoesman, Gito Rollies, Iwan Fals dan Ian Antono), Jangan Beda Kami (bersama Achmad Albar & Ikang), Jangan Ada Luka (duet dengan Achmad Albar) dan yang terakhir dirilis adalah "Rectrospective" (2012)

2. Nike Ardilla
Kepergian Nike Ardilla yang terbilang masih berusia muda ternyata tak menjadikan namanya pudar di benak insan musik Indonesia. Sebenarnya ini bukan untuk mengingatkan kembali akan kenangan lama, akan tetapi Nike Ardilla, sosok yang satu ini memang menarik untuk dikupas. Dibalik kematian Nike Ardilla ternyata menyisakan banyak sekali kenangan, harapan dan juga keyakinan akan hari depan. Tidak berlebihan apabila penulis mengungkapkan demikian, karena di balik kematiannya yang tragis memang telah menimbulkan suatu fenomena tersendiri. In death she soard………. Ya dalam kematian Nike Ardilla justru makin bersinar. Fansnya juga bertambah banyak. Hal ini tentu memberikan berkah tersendiri baik itu fans tersendiri maupun bagi pihak label yang menaungi Nike Ardilla, karena dengan demikian baik kaset, CD maupun VCD yang dikeluarkan oleh pihak label masih bisa dinikmati dan dibeli minimal oleh para penggemarnya. Era slow rock kini telah berlalu setelah lahirnya berbagai grup band dengan bermacam varian genre di tanah air. Pelan-pelan era slow rock mulai tergantikan dengan eranya grup band yang lebih banyak mengusung musik alternatif di akhir era 90an. Akan tetapi lagu-lagu Nike Ardilla masih mengisi hati para penggemarnya. Lagu-lagunya telah mengisi hati penggemarnya, ia memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya. Ada beberapa penyanyi yang 'mendompleng' kebesaran nama Nike Ardilla, sebut saja seperti Dike Ardilla, Lia Nathalia dan Elisa, namun karir mereka tak berjalan mulus.

3. Inka Christie
Rinni Chries Hartono yang lebih dikenal sebagai Inka Christie (lahir di Bali, 20 Januari 1973) adalah penyanyi Indonesia. Putri bungsu dari empat bersaudara dari pasangan S.Suhariono dan Krimiati ini dikenal sebagai lady rocker era 90an. Ia tak hanya dikenal di Indonesia tapi juga di negeri jiran Malaysia. Ia mulai populer di setelah mengeluarkan single Cinta Kita bersama Amy Search di tahun 1991 dan album "Gambaran Cinta" di tahun 1992. Memiliki karakter suara slow rock yang kuat sangat kentara sekali di lagu-lagunya. Albumnya yang lain di antaranya NAFAS CINTA (1993), YANG KUNANTI (1995), YANG KEDUA KALI (1996), TIADA CINTA YANG LAIN (1997), NYANYIAN SUARA HATI (1998), TERATAI (1999), PUISI CINTA (2001), SANGGUPKAH (2003) dan JANGAN PISAHKAN (2005). Putri bungsu dari empat bersaudara pasangan S.Suhariono dan Krimiati ini lewat lagu-lagunya itu juga dikenal luas oleh masyarakat Malaysia. Hingga beberapa kali Inka tampil di negeri jiran tersebut. 
Tahun 2007, Inka membentuk grup band beraliran pop. Grup band yang bernama Q-ta ini beranggotakan Inka Christie (vokal), Reza(gitar), Teguh 'Ngguh' (bass), Lala (keyboard), dan Hadi (drum). Album perdana mereka MENCARI CINTA dirilis tahun 2008.

4. Conny Dio
Kesuksesan Nike Ardila menggebrak pasar musik Indonesia diikuti kemunculan beberapa penyanyi wanita dengan corak musik serupa. Deddy Dores menjadi pencipta lagu sukses luar biasa karena beberapa penyanyi (khususnya wanita) yang menyanyikan lagu lagunya sukses di pasaran. Salah satunya adalah Conny Dio yang mempunyai nama asli Conny Tritayuni asal Cimahi Jawa Barat. Album "Setitik Air" dirilis tahun 1990 saat usia Conny masih 15 tahun. Single andalan tentu saja lagu Setitik Air sesuai judul albumnya.
Dengan karakter vokal yang kuat sebagai seorang lady rocker, membuat Conny Dio layak dinobatkan sebagai salah satu lady rocker Indonesia. Saya masih ingat di awal tahun 1991/1992 saya sering mendengarkan musik-musik top chart waktu itu di radio. Saya masih terngiang dengan lagu dari Conny Dio berduet dengan Wisnu diantaranya "Doa Seorang Kekasih" dan "Di Batas Kota Ini".

5. Nafa Urbach
Nafa Urbach memang tergolong wajah baru di industri musik era 90an, namanya baru dikenal publik setelah ia sukses pada debut perdananya melalui album "Bagai Lilin Kecil" yang dirilis tahun 1995 silam. Nafa Urbach merupakan penyanyi slow rock blasteran Indo-Jerman yang berasal dari kota Magelang. Kemunculan Nafa Urbach di jalur musik slow rock sebagai suksesor darilady rocker legendaris Nike Ardilla. Saat kemunculannya pun tepat, yaitu sesaat setelah meninggalnya Nike Ardilla. Dengan dukungan dan arahan yang diberikan oleh Deddy Dores sebagai komposer sekaligus pencipta lagu, karir Nafa pun berjalan mulus. Puncak karir Nafa Urbach diraih pada saat ia merilis album "Hatiku Bagai Di Sangkar Emas" yang diluncurkan pada medio 1998 dan juga pada album "Tiada Dusta Di Hatiku"yang dirilis pada akhir tahun 1999. Namun sayang, perlahan tapi pasti, karir Nafa Urbach mulai meredup, walaupun ia masih meluncurkan album di tahun 2001 yang bertajuk"Jujur Saja". Beberapa tahun selanjutnya karir Nafa mulai tenggelam, banyak orang yang mengkritisi inkonsistensi Nafa Urbach kala ia berpindah agama dari kristen, kemudian memeluk agama islam, dan kembali lagi beralih ke agama semula. Mungkin hal ini pulalah yang memberikan andil merosotnya karir Nafa dalam dunia musik Indonesia.

1 komentar :

Anggun C Sasmi gk masuk kategori ya gan...?

Posting Komentar