Minggu, 31 Maret 2013

KLa Project Dalam Era Digital

KLa Project akan merayakan usia ke-25 tahun pada Oktober mendatang. Band yang pada era 1990-an populer lewat lagu "Tentang Kita" dan "Yogyakarta" itu kini berada di tengah zaman digital ketika mengunduh lagu secara ilegal merajalela. Usia 25 tahun KLa dihitung sejak single mereka "Tentang Kita" termuat dalam album kompilasi bersama sejumlah artis lain bertajuk 10 Bintang Nusantara pada Agustus 1988. Menyusul kemudian, 23 Oktober, klip video KLa tayang pertama dalam acara Selecta Pop di TVRI dengan sutradara DJ Nawi. Di antara 10 artis yang termuat dalam album terbitan Team Records itu memang hanya KLa yang melesat dan bertahan sampai 25 tahun. Artis lain dalam album itu antara lain Splash Band, Katara Singers, Dimensi Band, dan Sirkus Barock.

Industri rekaman pada era akhir 1980-an memang sedang meriah. Saat itu ada Vina Panduwinata, Fariz RM, Karimata, dan Obie Messakh. KLa yang saat itu terdiri dari Katon, Lilo, Adi, dan Ari Burhani termasuk berjaya dengan kemasan musik yang disebut tekno-pop.

Sebagai band elektronik, KLa pernah membuat konser akustik di Gedung Kesenian Jakarta pada 1996. Konser itu direkam (live recording) dan diterbitkan sebagai album Klakustik. Album yang terdiri atas dua kaset itu memuat lagu antara lain "Terpuruk Ku di Sini", "Jumpa Kamu", "Gerimis", "Tentang Kita", "Romansa", "Waktu Tersisa", "Semoga", "Pasir Putih", "Belahan Jiwa", "Tak Bisa ke Lain Hati", dan "Yogyakarta". Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari monumen lagu pop di negeri ini. "Itu salah satu kebanggaan kami," kata Lilo tentang konser akustik itu.

Pada bulan November mendatang, KLa akan membuat konser akustik serupa dan direkam pula. Apakah lagu-lagu KLa akan kembali dirayakan orang di tengah belantika musik yang telah berubah? Orang dengan mudah mengunduh konten lagu dari internet secara legal, tetapi juga secara ilegal. Yang ilegal yang paling banyak terjadi, lebih dari 90 persen.

"Industri rekaman sedang kolaps," kata Katon yang bersama Lilo dan Adi bertandang ke redaksi Kompas. "Saat ini siasat apa pun tidak ampuh," kata Adi.

Dalam kondisi seperti itu, KLa menyayangkan kurang adanya perlindungan hukum dan regulasi yang memungkinkan seniman dapat terus berkarya dan karyanya dihargai secara ekonomi oleh masyarakat. Bukan diunduh (download) secara sembarangan di dunia maya. Kondisi seperti itu menjadikan seniman enggan membuat album.

"Buat apa, wong album baru juga tidak dihargai. Capek ngitung energi dan waktu yang dikeluarkan. Kerja bakti sekali. Respons sudah beda banget. (Album) laku sekali, tetapi itu yang gratis," kata Katon.

"Kami masih semangat berkarya. Namun, yang saya prihatinkan industri musiknya, industri rekaman yang tidak ada kejelasan ke depannya," kata Adi.

Budaya digital
Di Indonesia, teknologi digital belum memudahkan orang mengakses informasi apa pun itu, termasuk mendapatkan lagu yang justru merugikan artis. Kondisi ini jauh berbeda dengan artis di AS dan Eropa. Data dari iTunes memang menggiurkan. Pada 27 Februari 2013, di AS dan Eropa sudah terjadi pengunduhan 10 miliar lagu (single) di toko virtual iTunes yang diluncurkan 10 tahun lalu. Pada tahun 2012, setiap menit terjadi pengunduhan 15.000 lagu yang menghasilkan 1,7 miliar dollar AS. Katalog lagu iTunes sejauh ini ada 26 juta lagu.

"Ini yang bisa menyelamatkan industri. Mereka mempunyai kesadaran untuk membeli yang resmi. Cara ini akan melindungi karya, masyarakat, dan budaya," kata Katon.

KLa bukannya tidak berkarya. Tahun 2010 mereka merilis album "Exellentia". Tahun 2011 mereka memproduksi A Tribute to KLa di mana sejumlah artis, seperti Ungu, Kerispatih, dan RAN membawakan lagu kondang KLa. Album ini dijual lewat Indomaret dan terjual sekitar 80.000. "Tapi siapa yang datang ke toko CD? Siapa beli CD?" kata Adi.

Ia mengingatkan bahwa toko virtual pada era digital ini seperti menggantikan toko fisik. Brand besar seperti iTunes sudah masuk ke Indonesia. Akan tetapi, kultur digital di Indonesia belum disiapkan. "Padahal dunia sudah jelas arahnya ke sana, ke budaya digital, transaksi digital," kata Adi.

KLa menyebut negeri seperti Swedia, Perancis, dan Korea Selatan telah menerapkan regulasi yang mengatur pengunduhan karya musik. Negara-negara itu sudah berhasil membentuk masyarakat untuk siap dengan kultur digital. Masyarakat sudah mempunyai kesadaran bahwa mengunduh secara ilegal adalah kejahatan. Orang yang ketahuan tiga kali melakukan pengunduhan ilegal akan terkena hukuman.

Selama ini yang dilakukan pemerintah adalah menutup lamanlaman yang menyediakan konten ilegal. Menurut Katon, cara itu kurang efektif karena begitu satu laman ditutup, akan tumbuh laman lainnya.

Menyiapkan masyarakat
Era digital mengubah segalanya, termasuk Madonna. KLa memberi contoh Madonna sebagai salah satu artis besar yang sudah siap dengan era digital. Madonna sebagai artis terlindungi oleh pemerintah dan masyarakat dengan undang-undang.

"Mereka sudah paham bahwa dunia sudah berubah sehingga industri siap dengan hal itu. Itu karena pemerintahnya mengawali dan mengarahkan masyarakatnya supaya siap dengan dunia digital," kata Katon.

Terkait bisnis musik di era digital, KLa melihat tampaknya Indonesia saat ini belum siap. Salah satu penyebabnya antara lain masih adanya sikap selama ada pilihan gratis orang cenderung memilih barang gratis. Yang dimaksud gratis itu termasuk barang yang didapat atau diunduh secara ilegal.

KLa berpandangan, dalam masyarakat Indonesia sebenarnya sudah ada pemahaman bahwa mengambil hak yang bukan miliknya itu namanya mencuri. Karena itu, orang tidak langsung mengambil milik orang lain berupa barang fisik. "Namun, di dunia digital orang belum paham (soal pengambilan)," kata Adi.

KLa yakin, budaya masyarakat bisa dibentuk. KLa merujuk Singapura yang berhasil membentuk warganya untuk tertib hukum, termasuk sadar untuk tidak mengunduh lagu secara tidak resmi. Ia berharap pemerintah berperan dalam menciptakan regulasi yang melindungi karya seniman agar tidak diunduh secara ilegal.

0 komentar :

Posting Komentar