Jumat, 12 Oktober 2012

Kejayaan Musik Malaysia di Indonesia Era 90an

Bagi anda yang lahir pada rentang tahun 1981-1988 tentunya mengenal para musisi & penyanyi maupun grup band era 90an, pastinya anda tak asing dengan penyanyi beraliran slow rock seperti Inka Christie, Nike Ardilla, Nicky Astria, Conny Dio dan lain-lain, namun anda juga pasti tahu banyak penyanyi atau grup band dari Malaysia yang sukses berkiprah di belantika musik Indonesia kala itu. Berbagai tembang dari negeri jiran itu begitu signifikan merajai pasar musik tanah air. Tak hanya sukses di dapur rekaman saja, para musisi dari Malaysia juga berhasil merambah ke ranah dunia hiburan lainnya, yaitu industri perfilman Nusantara. Banyak dari lagu yang diciptakan, dijadikan tema film maupun music song dari film-film yang ada. Anda tentu masih ingat kan lagu Isabella yang dipopulerkan oleh grup Band asal Malaysia, Search, di awal dekade 90an?

Invasi Musik Malaysia

Pada awalnya, keberhasilan musisi Malaysia memikat hati masyarakat Indonesia ditandai dengan kehadiran penyanyi cantik bersuara lembut dari negeri Jiran, sheila Majid di tahun 1987, penyanyi ini melejit namanya berkat kesuksesan membawakan lagu "Antara Anyer Dan Jakarta", karya Oddie Agam. Sheila Majid menerima penghargaan BASF di indonesia atas keberhasilan penjualan albumnya.
Setelah itu sederet nama penyanyi ataupun grup musik asal Malaysia yang menuai kesuksesan serupa. Serbuan penyanyi dan grup band Malaysia makin hari semakin menjadi-jadi dengan makin banyaknya lagu-lagu bernuansa slow rock di hampir tiap toko kaset maupun lapak-lapak pedagang kaki lima, baik yang original maupun bajakan dipenuhi kaset-kaset penyanyi / band Malaysia.

Dekade 90an boleh dibilang adalah era kejayaan musik Malaysia di Indonesia. Kreativitas musisi Malaysia makin berpijar, mereka tak hanya membuat album sendiri, namun juga mencoba peruntungan dengan bekerja sama dengan musisi Indonesia untuk membuat album bersama. Hal itu tampak dari kolaborasi antara penyanyi seperti Amy Search dan Inka Christie, Ella dengan Deddy dores, Rahim Maarof dengan Conny Dio dan lain sebagainya. Lantas, apa yang membuat musik Malaysia dapat diterima dengan baik oleh para penggemar musik di Indonesia? Selain karena kejelian para musisi Malaysia dalam melihat minat masyarakat Indonesia terhadap musik bergenre slow rock maupun pop rock, faktor lainnya adalah kerjasama yang harmonis dari musisi Indonesia dan musisi Malaysia. Sejak tahun 1985, industri musik kedua negara telah memiliki konsensus bersama. 

Penyanyi-penyanyi Indonesia seperti Obbie Mesakh, Ria Angelina, Dian Piesesha, Pance F. Pondaag, dan lain-lain, sering mengadakan tour dan promosi album ke Malaysia, begitu pun sebaliknya. Hanya saja, musisi dari Malaysia agaknya lebih terberkati oleh "Dewi Fortuna". Album-album mereka lebih banyak menjadi hits dan meledak di pasaran musik Indonesia. 

Menjadi Raja di Negeri Sendiri

Akhir kejayaan musik Malaysia di belantika percaturan musik Nusantara, nampaknya mulai memudar di awal milenium baru, tepatnya tahun 2001. Memang, pada saat itu masih ada beberapa penyanyi maupun grup band asal Malaysia yang lagunya masih di putar di televisi nasional dan juga radio-radio, misalnya Siti Nurhaliza, New Boyz , Screen, Exist, Arrow dan lain sebagainya, namun tak segencar tahun 1999/2000. Tahun 2002 praktis hampir tak ada grup musik Malaysia yang menghiasi pasar musik tanah air. Pada tahun kondisinya berbalik 180 derajat, penyanyi maupun grup band Indonesia mampu mendominasi belantika musik nasional, ditandai dengan munculnya band-band Nusantara yang membawa berbagai jenis aliran musik seperti Shiela On 7, Dygta, Romeo dan Wayang. dengan aliran pop-nya di tahun 1999, Ada band, Padi, Caffeine & Element dengan aliran pop alternatif pada awal tahun 2000. Di tahun yang sama juga bermunculan grup band bergenre rock dan rock alternatif seperti Jamrud, 7 Kurcaci, Gigi dan lain-lain. Variasi aliran musik juga terlihat pada munculnya grup band bergenre ska seperti Purpose Tiger Clan, TipeX & Kungpow Chicken. Bermunculan juga penyanyi pendatang baru seperti Glenn Fredly, Melly Goeslaw, Alda Risma dan lain-lain. Oleh sebab itu, tahun 2002 merupakan titik balik bagi industri musik domestik.

Di sepanjang tahun 2004/2005, pasar musik dalam negeri Indonesia benar-benar didominasi oleh grup band dan penyanyi-penyanyi Indonesia. Banyak sekali bermunculan grup band baru seperti Radja, Utopia, Ungu, Peterpan dan Kotak. Penyanyi solo juga banya bermunculan seperti Agnes Monica, Marcell, Ika Putri dan Rossa. Pada periode tersebut penyanyi atau grup musik Indonesia mampu menjual hingga jutaan copy album musik mereka, memiliki fans fanatik yang tak terhitung jumlahnya. Lagu-lagu asli karya anak negeri pun mendominasi dunia industri musik tanah air. Musisi Indonesia telah menjadi Raja di negerinya Sendiri. Hal ini menandakan bahwa geliat musik di Indonesia telah menjadi milik musisi pribumi. 
Sebaliknya, penyanyi maupun grup musik Malaysia nyaris tak terdengar lagi gaungnya. walaupun ada satu adau dua penyanyi Malaysia yang tetap memiliki fans setia di Indonesia (seperti Siti Nurhaliza, grup band Exist, Iklim), namun tak se-digdaya seperti pada dekade 90an.

Bahkan kini berbalik, musisi Indonesia-lah yang "menginvasi" para penggemar musik Malaysia. Grup band seperti Peter Pan, Ungu, Sheila On 7, ST 12, dikabarkan meraup sukses besar pada penjualan album di negeri Jiran tersebut. Konser-konser yang mereka adakan di sana, selalu dipenuhi oleh para fans yang merupakan warga Malaysia. Perubahan ini terjadi karena meningkatnya kreativitas musisi Indonesia dalam menciptakan lagu-lagu berkualitas, banyaknya lagu yang beredar dan "easy listening", ternyata derespon dengan baik oleh pendengar musik di Indonesia. Selain itu, perubahan tersebut juga didorong akibat adanya perubahan selera genre musik masyarakat Indonesia, mereka lebih menggemari lagu bergenre pop melayu, rock dan pop rock. Berbeda dengan tahun 90an, ketika itu lagu bergenre slow rock lebih banyak diminati.

0 komentar :

Posting Komentar