Cupumanik, Band Grunge-Rock Asal Bandung

Ketika musik grunge sedang bergulir di era 90an, Cupumanik mulai dikenal di berbagai acara musik grunge, sebut saja acara grunge pertama dan terbesar di Bandung yang sangat fenomenal yaitu “Grungy”, di event tersebut Cupumanik menarik banyak perhatian dari publik musik Bandung.

Program Acara Musik TV Indonesia Era 90an

saat ini banyak bertebaran program / acara musik di televisi, ada Dahsyat, Inbox, Klik dan masih banyak lagi. Sebenarnya acara-acara musik tersebut bagus untuk disiarkan, namun tahukah anda bahwa acara musik TV sudah ada sejak era 90an?

Menjadi Diri Sendiri Lewat Jalur Indie

Istilah Indie merupakan akronim dari Indiependent, bisa dibaca sebagai sikap kreatif. Dengan berkreasi diluar jalur kaidah yang baku yang banyak dianut kekuatan besar industri. Singkat kata musik Indie adalah cerminan kaum muda yang mengekspresikan kebebasan berkreasi tanpa menggunakan patokan-patokan konvensional yang ditetapkan oleh industri rekaman.

Agnes Monica Rilis Album Baru Berbahasa Inggris

Ages Monica baru saja merilis album baru bertajuk "Agnez Mo" yang berisi 10 buah lagu, semuanya dalam bahasa inggris. Yuk kita simak review-nya dan juga tembang apa saja yang ada di album baru Agnes tersebut!

Band Potret Muncul Lagi Dengan Personil Baru

Grup Band Potret, sebuah grup musik dengan vokalis Melly Goeslaw yang sempat populer lewat tembang 'Mak Comblang', dan selama ini vakum kini eksis lagi dengan tambahan 2 personil baru, siapa saja mereka? Yuk simak infonya disini.

Sabtu, 16 April 2016

Astrid - Jadikan Aku Yang Kedua (2007)













Tracklist:
  1. Astrid - Jadikan Aku Yang Kedua
  2. Astrid - Cinta Itu
  3. Astrid - Kosong
  4. Astrid - Mengapa
  5. Astrid - Ku Cinta Dia
  6. Astrid - Cemburu
  7. Astrid - Cahaya Cinta
  8. Astrid - Ku Mau Kamu Selamanya (feat. Andy /rif)
  9. Astrid - Tak Bisa Kembali
  10. Astrid - Curiga
Download album here                        Pass: musikindo99.blogspot.co.id

Astrid - Self Titled (2005)













Tracklist:
  1. Astrid - Cinta Itu
  2. Astrid - Mengapa
  3. Astrid - Ku Mau Kau Selamanya
  4. Astrid - Cemburu
  5. Astrid - Tak Bisa Kembali
  6. Astrid - Perpisahan
  7. Astrid - Curiga
  8. Asrtid - Cahaya Cinta
  9. Astrid - Ku Cinta Dia
  10. Asrtid - Kosong
Download album here                                 Pass: Musikindo99

Review Film: Belenggu (2013)

Dari semua film-film thriller, masih ada film-film thriller Indonesia yang harus diacungi jempol. Sebut saja The Perfect House (2011) lalu yang cukup tampil dengan memuaskan. Kemudian, Modus Anomali (2012) yang merupakan sebuah hasil diatas rata-rata film Indonesia. Thriller terbaik Indonesia harus jatuh kepada Pintu Terlarang (2009) karya Joko Anwar yang menggambarkan bagaimana thriller Indonesia harus digarap. “Belenggu” merupakan pada jalur yang tepat. Memberikan nuansa kelam yang sangat meyakinkan sejak awal. 

Upi Avianto mulai berkarya sejak 30 Mencari Mencari Cinta (2004), yang menurut saya adalah sebuah debut dari Upi yang tidak mengecewakan. Upi kembali hadir dalam Realita Cinta dan Rock N Roll, yang kemudian kembali dalam Serigala Terakhir (2009), sebuah kisah persahabatan layaknya Mengejar Mathari namun dibalut lebih macho, lebih brutal, lebih laki dan lebih berat dari film-film yang mengisahkan tentang persahabatan lainnya. Upi kemudian hadir kembali dalam sebuah komedi, Red Cobex (2011) yang sebenarnya tidak mengecewakan namun kurang sah jika dikatakan sebuah film komedi karena komedi nya yang kurang berhasil membuat penontonya merasa senang. Namun dari tahun 2010, Upi kembali hadir dengan film terbarunya “Belenggu” yang merupakan thriller Indonesia. Film yang perdana pada Puchon International Fantastic Festival ini mendapatkan mixed reviews.

“Belenggu” mengisahkan tentang suatu kota yang sungguh kelam yang dimana semua rakyatnya mengalami ketakutan akibat adanya pembunuh dengan jubah kelinci yang masih berkeliaran diluar sana. Dan katanya pembunuh tersebut mengincar seorang perempuan. Semua orang saling mencurigai satu sama lain, begitu juga Elang (Abimana Aryasatya) yang tinggal di sebuah rumah susun. Elang adalah seorang pemuda yang bekerja di sebuah bar yang sangat penutup. Ia sering berbicara dengan tetangganya bernama Djenar (Laudya Cinthya Bella). Suatu saat Elang menyelamatkan seorang pelacur bernama Jingga (Imelda Therine). Elang pun menceritakan tentang mimpi buruk yang sering ia dapatkan mengenai sosok pembunuh berantai berjubah kelinci yang masih berkeliaran diluar sana. Dan Elang mencurigai suami dari Djenar (Verdi Solaiman). Namun, Elang tidak sadar bahwa Elang telah terbawa oleh sebuah dunia yang baru yang ia tidak sadari telah sepenuhnya merasuki tubuhnya dan membuatnya melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Tentu sembari menguak siapa sebenarnya pembunuh dengan jubah kelinci tersebut.

“Belenggu” adalah sebuah film yang dipenuhi dengan teka-teki sejak awal. Seperti yang saya katakan, sebuah physocological thriller yang sebenarnya tidak amatlah rumit. Namun, kemampuan Upi untuk membuat penontonya tetap merasa ingin tahu mengenai kelanjutan kisah Elang dan pembunuh dengan jubah kelinci tersebut memang sangat luar biasa. Teka-teki yang Upi minta untuk penonton selesaikan sepertinya sudah bisa terlesaikan mungkin sebelum endingnya tersendiri. Upi memilih untuk menjelaskan secara detail mengenai apa yang terjadi dibandingkan membiarkan penontonya menguak sendiri misteri tersebut. Bagi saya, saya lebih menyukai cara Upi dibandingkan cara Joko Anwar dalam “Pintu Terlarang” tersebut. “Belenggu” memilih kekurangan dan kelebihan layaknya film-film lainya. Sama sekali tidak sempurna namun saya sangat berterimakasih untuk Upi telah memberikan sebuah sajian yang tidak biasa bagi Perfilman Indonesia yang seharusnya di apresiasikan lebih bagi penonton Indonesianya sendiri.

Dengan gaya vintage nya, “Belenggu” membangun sebuah dunia baru yang tidak kita kenal. Kelam. Gelap. Tidak ada orang-orang yang bergaya biasa dan berperilaku biasa. Semuanya penuh dengan curiga. “Belenggu” berhasil dalam hal tersebut. Dengan tata suara nya yang juga berhasil memberikan sebuah ketengangan yang lebih sehingga jantung pun ikut berdebar. “Belenggu” bisa dibilang mampu tampil dengan mengerikan. Film yang penuh dengan teka-teki ini terlalu bermain aman ditengah, dimana “Belenggu” memulai misterinya dengan membangun tokoh Elang dan berfokus pada hal tersebut. Yang sayangnya kurang dibalut dengan menarik. Disinilah “Belenggu” mulai merasa membosankan. Sulit bagi saya untuk setia menyaksikan Elang dan mimpi-mimpi buruknya dan bagaimana Elang dihantui dengan sosok-sosok misterius tersebut. Paruh pertama membosankan. Namun dibayarkan dengan paruh keduanya yang menurut saya jauh lebih mengasyikan dibanding paruh pertamanya yang berjalan dengan membosankan dan amat lambat.

Masalah pemain, Abimana Aryasatya yang memulai aktingnya dalam “Catatan Harian Si Boy” membuktikan bahwa ia bisa bermain film apa saja. Just give him the right material, and he can bring damage to it. Bisa dikatakan Reza Rahadian yang baru. Abimana Aryasatya tampil meyakinkan sejak awal walaupun terkadang aktingnya agak cenderung berlebihan dimana akting gemeteranya terlihat terlalu dibuat-buat. Imelda Therine memang sejak dulu selalu menjadi aktris terfavorit saya. Bermain dalam film-film yang bisa dikatakan berbeda. Seperti “Angkerbatu”, “Rumah Dara”. Kali ini, akting Imelda Therine bisa dibilang lebih meyakinkan. Adapula Teuku Rifku Wikana yang (tidak mengejutkan) dapat bermain dengan baik dalam porsi yang sedikit. Jajang C. Noer, Verdi Solaiman, Bella Esperance bahkan Devina semuanya memberikan sebuah penampilan yang sangat baik. Sungguh disayangkan, sepertinya sosok Djenar disini tidak mampu membuat Laudya Cinthya Bella untuk dapat tampil lebih leluasa. Dimana dengan porsi yang sungguh singkat tersebut, Laudya CInthya Bella sebenarnya mampu memberikan sebuah penampilan yang tidak mengecewakan. Namun, pembangunan karakter Djenar rasanya sedikit membingungkan.

Pada akhirnya, “Belenggu” adalah sebuah psychological thriller yang memberikan sebuah atmosif mencekam dengan dunia yang kelam. Kota yang belum kita lihat dalam film-film Indonesia sebelumnya. Dan dengan gaya vintage nya dan seni artistik nya yang sangat memuaskan. Dengan kostum-kostum jadul dan dengan gaya-gaya pertunjukkan si jubah kelinci yang sangat keren. “Belenggu” sayangnya bisa dibilang gagal membuat penontonya tergila-gila akibat paruh pertamanya yang berjalan selamban kura-kura, yang yah…walaupun terbayarkan dengan paruh keduanya yang sebenarnya tidak keren-keren amat, namun mampu menghasilkan sebuah momen-momen menegangkan. Dan momen Elang dan Jingga berjalan setelah membalas dendam mungkin adalah bagian terbaik dari “Belenggu”. Dengan pemain-pemain yang sangat berakting dengan baik. Upi Avianto punya potensi untuk menghasilkan sebuah film yang sangat gila dan sangat memuaskan.Dan dengan misteri-misteri yang cukup solid. Namun, sayangnya pada akhirnya penonton meminta lebih dari “Belenggu” dan juga dari Upi.
Rating: 6,2/10                                               Download Film here (via ftp)

Senin, 11 April 2016

Dewi Sandra - Star (2007)













Tracklist:
  1. Dewi Sandra - I Love You
  2. Dewi Sandra - Buktikan (feat. Rayen "Pasto")
  3. Dewi Sandra - Cinta Lama
  4. Dewi Sandra - Sesal
  5. Dewi Sandra - Kata Cinta
  6. Dewi Sandra - Brand New Start
  7. Dewi Sandra - Bukan Salah Diriku
  8. Dewi Sandra - Pergi
  9. Dewi Sandra - Only You
  10. Dewi Sandra - Turn This Up
Download album here                           Passs: Musikindo99.blogspot.co.id

Kamis, 07 April 2016

Review Film Horor: Devil (2010)

Setan atau Iblis mungkin adalah mahluk adi kodrati yang paling ditakuti manusia yang percaya kepada entitasnya, sebagai lawan dari Tuhan sebagai sosok yang diagungkan.Well, sepertinya tidak akurat juga kalau kita sebut sebagai lawan dari Tuhan, karena toh dia juga ciptaan-Nya, layaknya malaikat atau manusia. Akan tetapi tampaknya sudah menjadi kodrat bagi sang Setan untuk mencobai manusia, dalam bentuk apa pun. Dan kini, melalui ‘Devil’ sekali lagi Setan berulah.

Ada lima orang yang ‘secara’ kebetulan terperangkap disebuah lift yang mengalami gangguan. Mereka adalah seorang satpam pengganti (Bokeem Woodbine), perempuan paruh baya (Jenny O’Harra), perempuan muda (Bojana Novakovic), mekanik (Logan Marshall-Green), dan salesman (Geoffrey Arrend). Masalahnya, salah seorang dari mereka ternyata adalah sosok perwujudan Setan yang mempunyai rencana misterius terhadap mereka. Saat satu persatu kemudian mereka menemukan kematian dengan menggenaskan, situasi panik dan penuh kecurigaan pun tidak terelakkan. Ditempat lain, seorang detektif (Chris Messina) yang tengah menyelidiki kasus bunuh diri di gedung yang sama kemudian terseret dalam kasus ini, tanpa menyadari jika sang Setan pun mempunyai rencana tersendiri untuk dirinya.

Berangkat dari ide cerita M. Night Shyamalan, ‘Devil’ diniatkan sebagai bagian awal dari trilogi ‘The Night Chronicles’. Tampaknya Shyamalan melalui film ini berusaha mengangkat kembali namanya yang akhir-akhir ini terpuruk dengan memproduksi sebuah sinema horor yang lebih solid dan straight to the point. Disutradarai oleh John Erick Dowdle (Quarantine), ‘Devil’ memanglah cukup menarik perhatian, karena sepanjang durasi 80 menitnya, lumayan berhasil dalam menjaga intensitas dengan memenuhi porsi narasi oleh ketegangan yang menggedor, nyaris tanpa henti.

Seting lift yang sempit sendiri tidak menghalangi film untuk tampil ciamik dan mendebarkan. Beruntung sekali film ini mendapat bantuan dari Tak Fujimoto (Silence of The Lambs, The Sixth Sense), seorang sinematografer kawakan, yang tahu benar bagaimana menempatkan sudut pandang-sudut pandang yang dapat menangkap kegalauan klaustrophobia yang menyesakkan.

Beruntungnya lagi, skrip juga mengizinkan dinamika plot yang cukup mengalir dan artikulatif. Meski tidak bisa ditepis kesan jika premisnya sendiri cukup terpengaruh oleh kisah ’10 Anak Negro’ karya sang master of suspense legendaris, Agatha Christie. Novel itu sendiri bisa dikatakan sebagai peletak platform slasher kontemporer yang kita kenal saat ini. Bercerita tentang 10 orang yang tidak saling mengenal satu sama lain dan berkumpul di sebuah pulau. Saat satu persatu kemudian mereka menemui kematian, terkuaklah fakta jika masing-masing dari mereka mempunyai dosa masa lalu yang tidak tersentuh hukum, sehingga kemudian seseorang memutuskan untuk “menghukum” mereka di pulau yang terisolasi tersebut.

Dalam ‘Devil’, seting pulau diganti menjadi sebuah lift yang tiba-tiba berhenti beroperasi. Sedang mengenai karakter-karakter sendiri, ternyata juga mempunyai “dosa” masa lalu. Tentu saja film akan menjadi tidak menarik jika tidak memiliki twist-nya sendiri. Dan ‘Devil’ menawarkan itu. Alurnya sendiri diatur dengan cukup cerdas dan ringkas. Itu yang terpenting, karena dapat mengeliminir tutur yang bertele-tele dan dapat tampil lancar serta tidak membosankan.

Meski begitu, sulit untuk menafikan jika film sangat “rohaniah”, dalam artian kentalnya dogma religi yang meyelubungi premisnya. Mau tidak mau, kesan “berkhotbah” kemudian sulit dihindarkan. Cukup mengganggu bagi saya, disamping kenyataan bahwa sebagai sebuah film horor, ‘Devil’ tidak benar-benar menyeramkan. Seru atau menegangkan mungkin, tapi tidak cukup kuat untuk “menakut-nakuti”. Mungkin akan dapat terselematkan jika saja ratingnya ditingkatkan menjadiRestricted ketimbang PG-13, karena potensi gore yang sadistis benar-benar disunat dari film ini. Pada akhirnya kekerasan hanya menjadi sekedar teaser yang datar ketimbang benar-benar dimanfaatkan untuk memprovokasi efek memilukan, yang saya yakin, jika dilakukan, pastilah akan menambah dramatisasi kengeriannya menjadi lebih efektif.

Terlepas dari itu, ‘Devil’ memang cukup memuaskan dahaga akan film horor yang cukup bernas. Dan sebagai pembuka dari sebuah trilogi, bolehlah kemudian kita berharap banyak pada sang kreator, M. Night Shyamalan, untuk dapat memberikan sensasi mencekam yang lebih baik lagi. Ditunggu.
Rating: 6,4/10                                                Download here (via torrent)